PERTANYAAN ORANG KAFIR DAN JAWABAN #15
Jika kita membuka facebook, forum dan blog di internet, biasanya selalu ada orang kafir yang menghina Islam atau bertanya sesuatu tentang Islam. Untuk itu kami merangkum sedikit jawaban apa yang mereka hinakan / tanyakan. Dan sebelumnya kami minta maaf tidak bisa menulis panjang lebar, sebab situasi dan kondisi kami juga bekerja. Untuk berbagai pertanyaan dan jawaban bisa baca di bawah ini:
DI ALQUR’AN AL-QASHAS 30, TERTULIS ALLAH ITU SEBUAH POHON, APAKAH BENAR?
Di dalam Qs. Al-Qashas 30 memang menceritakan nabi Musa yang berkelana dan akhirnya menemukan "petunjuk" yang unik, karena ia bukan manusia tetapi sebatang pohon. Sang pohon inilah yang mengajarkan kearifan kepada Nabi Musa sebagaimana dijelaskan dalam ayat: “Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah ia dari (arah) pinggir lembah yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: "Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam”.
Tempat tumbuhnya pohon itu dilukiskan di sebuah tempat yang penuh berkah atau suci. Ketika nabi Musa ke tempat di sekitar pohon itu, Nabi Musa diperintahkan untuk membuka alas kakinya, sebagaimana disebutkan dalam ayat: “Maka ketika ia datang ke tempat api itu, ia dipanggil: ‘Hai Musa, sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu, sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkan apa yang akan di wahyukan kepadamu”. (Qs. Thaha: 10-13).
Apakah pohon tersebut jelmaan Allah? Jelas tidak, sebab pohon itu sebelumnya sudah ada dan setelah kejadian itu beberapa waktu berlalu malah daunnya pohon itu di makan sama unta. Dalam kitab Al-Mizan, pohon yang mengeluarkan suara memanggil nabi Musa dan mengajari kearifan Kalam Allah yang tersembunyi di balik pohon itu. Kalam Allah memang sering disampaikan kepada hamba-hamba-Nya yang khusus di balik suatu hijab (min wara' hijab), sebagaimana dijelaskan dalam ayat:
“Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir (hijab) atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (Qs. Asy-Syura: 51).
Jadi tuhan itu bukan berbentuk pohon, karena pohon hanya sebagai tabir / hijab dari Allah untuk menyampaikan wahyu. Sebab jika Allah langsung muncul, maka manusia dan alam sekitar tidak kuat melihat kemuliaan Allah. Seperti halnya nabi Musa ingin melihat rupa Allah, baru melihat cahaya-Nya saja nabi Musa sudah pingsan dan gunung batu hancur luluh. Maka manusia belum mampu untuk melihat Allah secara langsung, kecuali nanti di akhirat.
Tempat tumbuhnya pohon itu dilukiskan di sebuah tempat yang penuh berkah atau suci. Ketika nabi Musa ke tempat di sekitar pohon itu, Nabi Musa diperintahkan untuk membuka alas kakinya, sebagaimana disebutkan dalam ayat: “Maka ketika ia datang ke tempat api itu, ia dipanggil: ‘Hai Musa, sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu, sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkan apa yang akan di wahyukan kepadamu”. (Qs. Thaha: 10-13).
Apakah pohon tersebut jelmaan Allah? Jelas tidak, sebab pohon itu sebelumnya sudah ada dan setelah kejadian itu beberapa waktu berlalu malah daunnya pohon itu di makan sama unta. Dalam kitab Al-Mizan, pohon yang mengeluarkan suara memanggil nabi Musa dan mengajari kearifan Kalam Allah yang tersembunyi di balik pohon itu. Kalam Allah memang sering disampaikan kepada hamba-hamba-Nya yang khusus di balik suatu hijab (min wara' hijab), sebagaimana dijelaskan dalam ayat:
“Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir (hijab) atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (Qs. Asy-Syura: 51).
Jadi tuhan itu bukan berbentuk pohon, karena pohon hanya sebagai tabir / hijab dari Allah untuk menyampaikan wahyu. Sebab jika Allah langsung muncul, maka manusia dan alam sekitar tidak kuat melihat kemuliaan Allah. Seperti halnya nabi Musa ingin melihat rupa Allah, baru melihat cahaya-Nya saja nabi Musa sudah pingsan dan gunung batu hancur luluh. Maka manusia belum mampu untuk melihat Allah secara langsung, kecuali nanti di akhirat.
APAKAH BENAR NABI MUHAMMAD MENIKAHI MENANTUNYA?
Nabi Muhammad memang menikahi mantan istri menantunya. Tapi perlu diketahu bahwa nabi Muhammad tidak memiliki anak lelaki. Sedangkan Zaid bin Haritsah (anak angkat) merupakan mantan budak nabi saat masih hidup bersama Khadijah. Di saat Khadijah telah meninggal dunia, Zaid tetap setia menemani kehidupan nabi hingga beliau hijrah ke Madinah.
Karena kedekatan inilah, nabi menikahkan Zaid dengan Zainab binti Jahsy. Pernikahan ini pada mulanya memang bukan pernikahan yang diinginkan oleh kedua mempelai. Bahkan Abdullah bin Jahsy, kakak dari Zainab, menolak terjadinya pernikahan ini karena menganggap pernikahan ini tidaklah sepadan. Nabi sendiri pada hakikatnya ingin menghapus kesenjangan status sosial tersebut dengan menikahkan keduanya.
Tetapi dari hari ke hari rumah tangga yang dibangun oleh Zaid dan Zainab binti Jahsy tidak menunjukan kebahagiaan sebagaimana layaknya pernikahan. Zaid yang telah berusaha keras membahagiakan Zainab, tampak sia-sia belaka. Zainab selalu menolak apa yang ditawarkan oleh Zaid. Ketika waktu terus berlalu, Zainab semakin hilang empati kepada Zaid, hingga Zainab pernah melontarkan kata-kata hingga membuat hati suaminya terluka. Akhirnya Zaid menceraikan Zainab binti Jahsy.
Nabi Saw merasa bertanggung jawab atas keduanya, karena beliau yang memaksa keduanya untuk menikah. Terbesit benak nabi untuk menikahi Zainab, karena merasa kasihan Zainab binti Jahsy yang menjadi sebatang kara, tanpa seorang anak dan suami. Akan tetapi nabi ragu karena khawatir nanti akan timbul fitnah jika nabi menikahi Zainab, mantan istri dari anak angkatnya. Maka keinginan tersebut diurungkan, sehingga Malaikat Jibril datang membawa ayat yang merestui pernikahan keduanya (Qs. Al-Ahzab: 37). Ketika Zainab mendengar kabar ini, sangat gembira hatinya karena dinikahi oleh nabi Muhammad Saw.
Karena kedekatan inilah, nabi menikahkan Zaid dengan Zainab binti Jahsy. Pernikahan ini pada mulanya memang bukan pernikahan yang diinginkan oleh kedua mempelai. Bahkan Abdullah bin Jahsy, kakak dari Zainab, menolak terjadinya pernikahan ini karena menganggap pernikahan ini tidaklah sepadan. Nabi sendiri pada hakikatnya ingin menghapus kesenjangan status sosial tersebut dengan menikahkan keduanya.
Tetapi dari hari ke hari rumah tangga yang dibangun oleh Zaid dan Zainab binti Jahsy tidak menunjukan kebahagiaan sebagaimana layaknya pernikahan. Zaid yang telah berusaha keras membahagiakan Zainab, tampak sia-sia belaka. Zainab selalu menolak apa yang ditawarkan oleh Zaid. Ketika waktu terus berlalu, Zainab semakin hilang empati kepada Zaid, hingga Zainab pernah melontarkan kata-kata hingga membuat hati suaminya terluka. Akhirnya Zaid menceraikan Zainab binti Jahsy.
Nabi Saw merasa bertanggung jawab atas keduanya, karena beliau yang memaksa keduanya untuk menikah. Terbesit benak nabi untuk menikahi Zainab, karena merasa kasihan Zainab binti Jahsy yang menjadi sebatang kara, tanpa seorang anak dan suami. Akan tetapi nabi ragu karena khawatir nanti akan timbul fitnah jika nabi menikahi Zainab, mantan istri dari anak angkatnya. Maka keinginan tersebut diurungkan, sehingga Malaikat Jibril datang membawa ayat yang merestui pernikahan keduanya (Qs. Al-Ahzab: 37). Ketika Zainab mendengar kabar ini, sangat gembira hatinya karena dinikahi oleh nabi Muhammad Saw.
APAKAH NABI MUHAMMAD BERZINA DENGAN MARIYAH QIBTIYAH?
Rasulullah Saw atau Nabi Muhammad tidak berzina dengan Mariyah Qibtiyah. Yang nuduh zina adalah kaum kafir yang suka hina Islam. Semua itu gara-gara Rasulullah titip Mariyah di suatu tempat. Dan Hafsyah (istri Rasulullah yang lain) melihat Rasulullah “ngobrol” dengan Mariyah. Karena istri Rasulullah cemburu, untuk hilangkan cemburu istrinya maka Rasulullah: haramkan dirinya minum madu. Tapi di tegur sama Allah agar tidak mengaramkan madu.
Mariyah al-Qibtiyah lahir di Hafn, dataran tinggi di Mesir, nama lengkapnya Mariyah binti Syama'un. Ayahnya dari suku Qibti, karena itu dikenal Mariyah Qibtiyah. Ketika remaja ia kerjakan kepada penguasa Mesir (Raja Muqauqis). Ia bekerja bersama saudaranya Sirin. Hingga suatu ketika, Rasulullah Saw kirim surat kepada Raja Muqauqis melalui Hatib bin Balta'ah yang isinya menyeru kepada Raja Muqauqis agar memeluk Islam. Raja Muqauqis menerima utusan Rasulullah dengan baik, tapi menolak ajakan Rasulullah memeluk Islam.
Sebagai tanda persahabatan ia kirim hadiah dari kerajaan untuk Rasulullah dan juga kirim Mariyah, Sirin dan seorang budak Mabura. Mariyah memiliki kulit putih dan berparas cantik dan memiliki kepribadian menawan. Ternyata Allah Swt memberi kejutan luar biasa kepada Mariyah. Rasulullah Saw membebaskannya sebagai budak dan menikahinya. Lalu menitipkan Mariyah di suatu tempat.
Setelah menikah dengan Rasulullah Saw, akhirnya hamil. Rasulullah SAW sangat menjaga kondisi Mariyah saat masih hamil. Akhirnya seorang anak laki-laki lahir pada Zulhijah 8 H dan diberi nama Ibrahim. Namun pada Rabiul Awal tahun ke-10 H, tepat pada usia 16 bulan, Ibrahim jatuh sakit yang cukup parah dan meninggal dunia. Mariyah hidup menyendiri dan wafat 5 tahun setelah meninggalnya Rasulullah pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab ✔✔✔
Mariyah al-Qibtiyah lahir di Hafn, dataran tinggi di Mesir, nama lengkapnya Mariyah binti Syama'un. Ayahnya dari suku Qibti, karena itu dikenal Mariyah Qibtiyah. Ketika remaja ia kerjakan kepada penguasa Mesir (Raja Muqauqis). Ia bekerja bersama saudaranya Sirin. Hingga suatu ketika, Rasulullah Saw kirim surat kepada Raja Muqauqis melalui Hatib bin Balta'ah yang isinya menyeru kepada Raja Muqauqis agar memeluk Islam. Raja Muqauqis menerima utusan Rasulullah dengan baik, tapi menolak ajakan Rasulullah memeluk Islam.
Sebagai tanda persahabatan ia kirim hadiah dari kerajaan untuk Rasulullah dan juga kirim Mariyah, Sirin dan seorang budak Mabura. Mariyah memiliki kulit putih dan berparas cantik dan memiliki kepribadian menawan. Ternyata Allah Swt memberi kejutan luar biasa kepada Mariyah. Rasulullah Saw membebaskannya sebagai budak dan menikahinya. Lalu menitipkan Mariyah di suatu tempat.
Setelah menikah dengan Rasulullah Saw, akhirnya hamil. Rasulullah SAW sangat menjaga kondisi Mariyah saat masih hamil. Akhirnya seorang anak laki-laki lahir pada Zulhijah 8 H dan diberi nama Ibrahim. Namun pada Rabiul Awal tahun ke-10 H, tepat pada usia 16 bulan, Ibrahim jatuh sakit yang cukup parah dan meninggal dunia. Mariyah hidup menyendiri dan wafat 5 tahun setelah meninggalnya Rasulullah pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab ✔✔✔
APAKAH BENAR TUHAN ISLAM ITU KRITING DAN KEHIJAUAN?