PERTANYAAN ORANG KAFIR DAN JAWABAN #8
Jika kita membuka facebook, forum dan blog di internet, biasanya selalu ada orang kafir yang menghina Islam atau bertanya sesuatu tentang Islam. Untuk itu kami merangkum sedikit jawaban apa yang mereka hinakan / tanyakan. Dan sebelumnya kami minta maaf tidak bisa menulis panjang lebar, sebab situasi dan kondisi kami juga bekerja. Untuk berbagai pertanyaan dan jawaban bisa baca di bawah ini:
KENAPA NABI MUHAMMAD ITU SUKA MENGAWINI ANAK KECIL?
Lha kamu di cek dulu riwayat hadist tentang pernikahan istri nabi Muhammad Saw.
Praktek pernikahan anak seringkali merujuk pada pernikahan nabi Muhammad Saw dengan merujuk hadist: “Dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ‘Aisyah,
تَزَوَّجَنِي النَّبِيُّ وَأَنَا ابْنَةُ سِتٍ وَبَنَى بي وَأَنَا ابْنَةُ تسع
Nabi menikahiku pada saat usiaku enam tahun dan hidup bersamaku pada usiaku sembilan tahun”. (HR. Bukhari).
Nah, Hisyam bin ‘Urwah meriwayatkan hadis ini pada saat di Irak ketika umurnya memasuki 71 tahun. Ya’qub bin Syaibah (pemimpin para hafidz, penulis kitab besar Al-Musnad dan At-Tafsir) mengatakan tentang Hisyam: ”Apa yang dituturkan Hisyam sangat terpercaya, kecuali yang diceritakannya saat ia menetap di Irak”. Menurut para ahli bahwa tatkala usia Hisyam sudah lanjut, ingatannya sangat menurun. Dengan demikian riwayat yang menyebutkan usia pernikahan ‘Aisyah ra, yang bersumber dari Hisyam bin ’Urwah patut dicek lagi.
Apalagi riwayat hadis tentang usia ’Aisyah ra, ketika melakukan pernikahan tersebut di atas hanya berasal dari satu orang saja, yaitu Hisyam bin ’Urwah sehingga hanya Hisyam saja yang menceritakan umur ‘Aisyah saat dinikahi Nabi. Tapi dari perowi lainnya, misalnya: Abu Hurairah atau Anas Bin Malik tidak pernah ada riwayatnya.
Selanjutnya di cek aspek historis. Usia pernikahan ’Aisyah perlu dilihat dari sisi historis. Menurut Abdurrahman bin Abi Zinad, bahwa: Asma’ (kakak ’Aisyah) umurnya 10 tahun lebih tua. Dan dalam riwayat sejarah, usia Asma’ sampai 100 tahun dan meninggal tahun 73 atau 74 Hijriyah. Ini berarti bahwa saat peristiwa Hijrah, usia Asma’ sekitar 27 atau 28 tahun (100 - 73). Karena usia ’Aisyah terpaut 10 tahun dengan Asma, maka usia ‘Aisyah saat pertama kali satu rumah dengan Nabi adalah antara 17 atau 18 tahun. Silahkan di cek lagi tahun hijrahnya nabi dari Mekkah ke Madinah nanti akan ketemu.
Dan yang terakhir di cek aspek sosio antropologis. Dalam membaca hadis pernikahan ‘Aisyah dimaksud, jika riwayat tersebut benar hidup bersama umur 9 tahun. Maka pernikahan tersebut perlu dibaca dari sisi sosio antropologis. Usia pernikahan itu relatif tergantung dari budaya masyarakat, era dan tempat. Antara masyarakat satu dengan lainnya, satu tempat ke tempat lain, dan era berbeda, akan nampak budaya dan tradisi beragam.
Apalagi perempuan di Indonesia di jaman dulu umur 9, 10 atau 12 tahun juga sudah menikah. Contohnya obrolan di facebook bahwa nenek-nenek mereka nikahnya juga nikah muda.
Praktek pernikahan anak seringkali merujuk pada pernikahan nabi Muhammad Saw dengan merujuk hadist: “Dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ‘Aisyah,
تَزَوَّجَنِي النَّبِيُّ وَأَنَا ابْنَةُ سِتٍ وَبَنَى بي وَأَنَا ابْنَةُ تسع
Nabi menikahiku pada saat usiaku enam tahun dan hidup bersamaku pada usiaku sembilan tahun”. (HR. Bukhari).
Nah, Hisyam bin ‘Urwah meriwayatkan hadis ini pada saat di Irak ketika umurnya memasuki 71 tahun. Ya’qub bin Syaibah (pemimpin para hafidz, penulis kitab besar Al-Musnad dan At-Tafsir) mengatakan tentang Hisyam: ”Apa yang dituturkan Hisyam sangat terpercaya, kecuali yang diceritakannya saat ia menetap di Irak”. Menurut para ahli bahwa tatkala usia Hisyam sudah lanjut, ingatannya sangat menurun. Dengan demikian riwayat yang menyebutkan usia pernikahan ‘Aisyah ra, yang bersumber dari Hisyam bin ’Urwah patut dicek lagi.
Apalagi riwayat hadis tentang usia ’Aisyah ra, ketika melakukan pernikahan tersebut di atas hanya berasal dari satu orang saja, yaitu Hisyam bin ’Urwah sehingga hanya Hisyam saja yang menceritakan umur ‘Aisyah saat dinikahi Nabi. Tapi dari perowi lainnya, misalnya: Abu Hurairah atau Anas Bin Malik tidak pernah ada riwayatnya.
Selanjutnya di cek aspek historis. Usia pernikahan ’Aisyah perlu dilihat dari sisi historis. Menurut Abdurrahman bin Abi Zinad, bahwa: Asma’ (kakak ’Aisyah) umurnya 10 tahun lebih tua. Dan dalam riwayat sejarah, usia Asma’ sampai 100 tahun dan meninggal tahun 73 atau 74 Hijriyah. Ini berarti bahwa saat peristiwa Hijrah, usia Asma’ sekitar 27 atau 28 tahun (100 - 73). Karena usia ’Aisyah terpaut 10 tahun dengan Asma, maka usia ‘Aisyah saat pertama kali satu rumah dengan Nabi adalah antara 17 atau 18 tahun. Silahkan di cek lagi tahun hijrahnya nabi dari Mekkah ke Madinah nanti akan ketemu.
Dan yang terakhir di cek aspek sosio antropologis. Dalam membaca hadis pernikahan ‘Aisyah dimaksud, jika riwayat tersebut benar hidup bersama umur 9 tahun. Maka pernikahan tersebut perlu dibaca dari sisi sosio antropologis. Usia pernikahan itu relatif tergantung dari budaya masyarakat, era dan tempat. Antara masyarakat satu dengan lainnya, satu tempat ke tempat lain, dan era berbeda, akan nampak budaya dan tradisi beragam.
Apalagi perempuan di Indonesia di jaman dulu umur 9, 10 atau 12 tahun juga sudah menikah. Contohnya obrolan di facebook bahwa nenek-nenek mereka nikahnya juga nikah muda.

ORANG ISLAM MENUDUH YESUS MENIKAHI ANAK UMUR 3 TAHUN. MANA BUKTINYA?
YESUS MENIKAH DENGAN ANAK UMUR 3 TAHUN !!!
Al-Kitab terbitan 1928 sebelum akhirnya diedit oleh Pendeta Albert D. Meyer dari Gereja Reformis Belanda yg melakukan perubahan total terhadap Injil, termasuk dengan MENENDANG ayat Matius 20:22 tersebut dari Al-Kitab. (Jangan lupa, al-kitab terbitan 1928 tersebut kini tersimpan di Nationalbibliothiek, Vienna, Austria.) Alkitab 1928 berisi 66 kitab, terdiri dari 39 kitab Perjanjian lama dan 27 Kitab Perjanjian Baru.
”Naiklah Yesus ke atas keledai betina. Seperti biasa Yesus selalu memasukkan jari telunjuk dan kemaluannya ke dalam lobang kemaluan keledai betina yang baru saja dicuri dari Betfage hingga Yesus mengeluarkan cairan rupa mani. Semua orang Israel melihat hobi Yesus sambil berseru :”Inikah kerjaan mesias?”(Matius 20:22)
"Istriku yang paling muda ialah Maria yg berumur 3 TAHUN, tidak tahan nafsuku melihat burit Maria, oh... indahnya". (Markus 6:18-19).
Al-Kitab terbitan 1928 sebelum akhirnya diedit oleh Pendeta Albert D. Meyer dari Gereja Reformis Belanda yg melakukan perubahan total terhadap Injil, termasuk dengan MENENDANG ayat Matius 20:22 tersebut dari Al-Kitab. (Jangan lupa, al-kitab terbitan 1928 tersebut kini tersimpan di Nationalbibliothiek, Vienna, Austria.) Alkitab 1928 berisi 66 kitab, terdiri dari 39 kitab Perjanjian lama dan 27 Kitab Perjanjian Baru.
”Naiklah Yesus ke atas keledai betina. Seperti biasa Yesus selalu memasukkan jari telunjuk dan kemaluannya ke dalam lobang kemaluan keledai betina yang baru saja dicuri dari Betfage hingga Yesus mengeluarkan cairan rupa mani. Semua orang Israel melihat hobi Yesus sambil berseru :”Inikah kerjaan mesias?”(Matius 20:22)
"Istriku yang paling muda ialah Maria yg berumur 3 TAHUN, tidak tahan nafsuku melihat burit Maria, oh... indahnya". (Markus 6:18-19).

KENAPA ORANG ISLAM SELALU MENOLAK PEMBANGUNAN GEREJA?
KENAPA BANGUN GEREJA SERING DI TOLAK?
Alasannya, karena dibangun di tengah warga yang mayoritas muslim. Namanya minoritas pasti rumah ibadahnya di tengah warga yang mayoritas beragama lain. Contoh, di suatu kecamatan ada 10 ribu jiwa penduduknya, yang beragama Islam ada 9.800 jiwa, sementara yang Kristen hanya 150 jiwa, sisanya beragama lain. Di mana pun umat Kristen di kecamatan tersebut hendak mendirikan rumah ibadahnya, pasti warga di sekitar rumah ibadah tersebut mayoritas beragama Islam bukan? Kecuali jika umat Kristen itu tinggal terkonsentrasi dalam satu kompleks atau satu RW, baru mereka bisa mendirikan rumah ibadah di tengah-tengah pemukiman.
Terkait perkara di atas, kadang warga yang akan beribadah ke gereja tersebut bukan “warga sekitar”, tetapi dari “luar daerah”. Nah, bayangkan umat Kristen yang 150 jiwa itu berdomisili di berbagai kelurahan yang ada di kecamatan tersebut, tentunya rumah ibadah Kristen di kecamatan tersebut akan digunakan oleh umat dari berbagai kelurahan di kecamatan itu, bukan dari satu RT atau satu RW saja sebagaimana umat agama Islam. Bahkan bisa jadi umat Kristen akan di drop dari daerah lain.
Jadi apa alasan lain gereja di tolak? Karena ada yang khawatir umat Islam akan ada yang pindah jadi Kristen kalau gereja didirikan di daerah tertentu. Dan jika ada umat Islam pindah ke Kristen tentu kasihan, sebab dalam Kristen itu menyembah tuhan yang bisa mati. Padahal dalam Islam tuhannya tidak pernah mati. Jika orang menyembah tuhan yang mati, berarti menyembah tuhan abal-abal dan matinya di buang ke api neraka selamanya. Kan kasihan sekali nantinya.
Tapi apa mungkin imannya kok setipis itu untuk pindah agama? Ya bisa saja, karena kalau orang sudah kelaparan itu di iming-imingi Supermi langsung ambil dan membuang iman, yang penting perut kenyang.
Alasannya, karena dibangun di tengah warga yang mayoritas muslim. Namanya minoritas pasti rumah ibadahnya di tengah warga yang mayoritas beragama lain. Contoh, di suatu kecamatan ada 10 ribu jiwa penduduknya, yang beragama Islam ada 9.800 jiwa, sementara yang Kristen hanya 150 jiwa, sisanya beragama lain. Di mana pun umat Kristen di kecamatan tersebut hendak mendirikan rumah ibadahnya, pasti warga di sekitar rumah ibadah tersebut mayoritas beragama Islam bukan? Kecuali jika umat Kristen itu tinggal terkonsentrasi dalam satu kompleks atau satu RW, baru mereka bisa mendirikan rumah ibadah di tengah-tengah pemukiman.
Terkait perkara di atas, kadang warga yang akan beribadah ke gereja tersebut bukan “warga sekitar”, tetapi dari “luar daerah”. Nah, bayangkan umat Kristen yang 150 jiwa itu berdomisili di berbagai kelurahan yang ada di kecamatan tersebut, tentunya rumah ibadah Kristen di kecamatan tersebut akan digunakan oleh umat dari berbagai kelurahan di kecamatan itu, bukan dari satu RT atau satu RW saja sebagaimana umat agama Islam. Bahkan bisa jadi umat Kristen akan di drop dari daerah lain.
Jadi apa alasan lain gereja di tolak? Karena ada yang khawatir umat Islam akan ada yang pindah jadi Kristen kalau gereja didirikan di daerah tertentu. Dan jika ada umat Islam pindah ke Kristen tentu kasihan, sebab dalam Kristen itu menyembah tuhan yang bisa mati. Padahal dalam Islam tuhannya tidak pernah mati. Jika orang menyembah tuhan yang mati, berarti menyembah tuhan abal-abal dan matinya di buang ke api neraka selamanya. Kan kasihan sekali nantinya.
Tapi apa mungkin imannya kok setipis itu untuk pindah agama? Ya bisa saja, karena kalau orang sudah kelaparan itu di iming-imingi Supermi langsung ambil dan membuang iman, yang penting perut kenyang.
MASJIDIL AQSHA DI YERUSALEM SEBELUMNYA ADALAH GEREJA, KENAPA JADI MILIK UMAT ISLAM?